Sejarah Desa

SEJARAH TERBENTUKNYA DESA TANAH MERAH

DI KECAMATAN RANGSANG PESISIR, KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI, PROVINSI RIAU

 

Berdasarkan sejarahnya, Desa Tanah Merah dikenal sebagai Desa Kedabu (Kedaburapat) yang kemudian mengalami pemekaran pada tahun 2004. Pada mulanya, sekitar  tahun  1930-an,  Desa  Kedaburapat  atau  Desa  Tanah  Merah  memiliki  kepala kampung yang disebut dengan sebutan Penghulu. Penghulu atau kepala kampung pertama adalah Tuk Tengek yang menjabat sebagai Penghulu pada periode 1930—1939.

3

Pada tahun 1960-1969 atau yang merupakan masa 60—70-an, Desa Kedaburapat atau Desa Tanah Merah yang dipimpin oleh Abdul Rahman merupakan desa yang masih berupa hutan belantara dan belum tersentuh oleh pembangunan. Selain itu, pada masa tersebut juga Desa Kedaburapat berada dalam kondisi dijajah oleh Belanda dan Jepang. Pada masa penjajahan tersebut, pusat pemerintahan Belanda terletak di Tanjung Mayat Selat Panjang, sedangkan pusat pemerintahan Jepang terletak di Desa Jepon yang sekarang disebut Desa Telaga Baru. Di masa lampau, Desa Kedaburapat juga menjadi tempat persinggahan bagi para pedagang dari negara tetangga,  yaitu Malaysia dan Singapura. Wilayah kekuasaan Penghulu atau Kepala Kampung Desa Kedaburapat pada masa itu berada di sekitar Tanjung Motong sampai di Tanjung Samak.

doc3_001

Pada awalnya, mata pencaharian masyarakat Desa Kedaburapat atau Desa Tanah Merah adalah nelayan, petani, dan pedagang. Kondisi ekonomi masyarakat pada masa itu cukup memprihatinkan. Ada suatu istilah yang menggambarkan kondisi masyarakat pada masa itu yaitu “kais pagi makan pagi, kais petang makan petang” yang artinya adalah hidup dengan „pas-pasan‟. Dengan kata lain, masyarakat Desa Tanah Merah pergi bekerja di ladang maupun di laut dengan penghasilan yang kecil dan hasilnya hanya cukup untuk makan hari itu saja. Hal yang menarik sekaligus memprihatinkan adalah ketika kami mewawancarai Kepala Desa Tanah Merah, Bapak Rusli, ia mengatakan bahwa sampai saat ini kondisi ekonomi masyarakat Desa Tanah Merah masih demikian dan belum berubah. Hal  itu  disebabkan  oleh  kurangnya  sarana  dan  prasarana  masyarakat  untuk  bekerja sehingga penghasilan yang mereka dapatkan kurang memadai.

nelayan-tangkap-500x277

pohon-sagu-panen

Tidak hanya kondisi ekonomi masyarakat yang memprihatinkan, di masa lampau pun  di  Desa  Kedaburapat  atau  Desa  Tanah  Merah  tidak  ada  ahli  medis  dan  sarana kesehatan yang memadai. Penduduk hanya mengandalkan Cuma Bomo atau yang disebut sebagai Dukun Kampung.

1355335prosesi-pengobatan-tradisonal-di-sampela-kuta-780x390

Pada tahun 1970—1988, wilayah Desa Kedaburapat diperkecil yaitu dari Sempian sampai dengan Sungari Rangsang. Kemudian, Desa Kedaburapat atau Desa Tanah Merah ini dibagi menjadi 8 RK (Rukun Kampung) yaitu :

(1) Sungai Senteng;                                                    (5) Parit Jang;

(2) Sempian;                                                                (6) Parti Besar;

(3) Parik Kasan;                                                          (7) Parit Senang; dan

(4) Parit Amat;                                                            (8) Kedabu.

Rukun kampung kedelapan yaitu Kedabu itulah yang sekarang ini menjadi Desa Tanah Merah. Lebih tepatnya, Kedabu dimekarkan menjadi dua desa pada tahun 1990—2004 menjadi Desa Kedaburapat dan Desa Tanah Merah.

dsc06132

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Komentar & Saran Anda :