CUACA BURUK NELAYAN TANAH MERAH TIDAK BISA MELAUT

Tanah Merah Selasa 08 Januari 2019. Angin Kencang dan gelombang tinggi membuat nelayan takut untuk pergi melaut, dikarenakan pada musim akhir tahun dan awal tahun 2019 ini angin sangat kuat serta gelombang yang bisa kapan saja bisa berakibat fatal bagi para nelayan.

untuk saat ini para nelayan tidak ada yang berani untuk pergi melaut dengan kondisi cuaca buruk serta gelombang tinggi , mungkin diperkirakan pada bulan depan akan kembali melanjutkan aktifitas nelayan seperti biasanya menunggu kondisi cuaca membaik kata ( Yusuf ) salah seorang nelayan Desa Tanah Merah.

Desa Tanah Merah merupakan salah satu Desa di wilayah Kecamatan Rangsang Pesisir, yang terletak +  6 km kearah Barat dari Ibu Kota Kecamatan . Desa Tanah Merah mempunyai luas wilayah seluas 48 km2 Secara Topografi ketinggian Desa ini adalah berupa wilayah dataran yaitu 100 m diatas permukaan laut terletak di Kecamatan Rangsang Pesisir Kabupaten Kepulauan Meranti .

Secara Administratif, Desa Tanah Merah terletak diwilayah Kecamatan Rangsang Pesisir kabupaten Kepulauan Meranti dengan posisi dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga dan Negara Tetangga ( MALAYSIA )

Disebelah Utara                      : Berbatasan dengan Selat Melaka

Disebelah Timur                     : Berbatasan dengan Desa Sonde

Disebelah Selatan                   : Berbatasan dengan Desa Kayu Ara

Disebelah Barat                      : Berbatasan dengan Desa Kedaburapat

Jpeg

Desa yang berpenduduk mencapai 1784 jiwa ini mata pencaharianya secara gari besar adalah Nelayan dan Petani,berdasarkan data yang tersedia mencapai 80 % namun sudah hampir 2 Pekan kondisi perairan Selat Malaka sangat tidak stabil dengan gelombang yang tinggi disertai anggin yang kencang sehinga para nelayan di Desa Tanah Merah ini, tepatnya di sekitaran perairan Selat Malaka mengeluhkan dampak cuaca buruk yang terjadi di 2 pekan terakhir ini.

Para nelayan yang merasakan dampak tersebut tidak bisa melakukan aktifitas melaut, karena perubahan gelombang dan air pasang menjadi besar akibat badai. “Gangguan cuaca yang paling mengganggu itu adalah badai. Sebab, arus gelombang mengikuti arah angin,” sebut yusuf (42), salah seorang nelayan, Selasa (08 Januari 2019 ).

Jpeg

Dia menjelaskan, cuaca dengan hujan lebat dan badai sudah berlangsung hampir dua pekan terakhir pada minggu ke dua bulan desember dan januari ini dan sudah menghambat aktifitas melaut. Terutama, bagi nelayan kecil yang hanya menggantungkan diri pada anak kapal dan anggota nelayan lainnya.

“Kalau cuaca buruk, seluruh aktifitas melaut di perairan Selat Malaka tidak akan ada. Sudah dipastikan para nelayan ini pulang tidak membawa hasil,” katanya.

Berprofesi sebagai nelayan, terutama untuk nelayan kecil kebanyakan tidak memiliki perkerjaan sampingan. Mirisnya, di saat cuaca buruk, sebagian nelayan terpaksa gigit jari melihat kedaan. Mencari rezeki dengan melaut pun hanya dapat untung-untungan, diperparah jika cuaca buruk.para nelayan berharap keadaan seperti ini cepat berakhir.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.