Tradisi Tepuk Tepung Tawar Masih tetap Lestari Di Desa Tanah Merah

Tanah Merah Kepulauan Meranti.desa.id

Tanah Merah 20 Nopember 2017

Tradisi atau adat istiadat Tepuk tepung Tawar Masih Tetap Lestari di Desa Tanah Merah,Walau pun Masyarakat desa Tanah Merah terdiri dari berbagai suku bangsa, Tapi tradisi khas Melayu ini tetap terus terjaga begitu yang disampaikan salah satu tokoh Masyarakat Desa Tanah Merah,Desa Tanah Merah Masyarakat nya terdiri dari Suku Melayu,Jawa,Bugis,batak,akit dan tiong hua dan beberapa suku lainya namun di acara pesta Pernikan Tradisi ini tetap di pakai,baik itu suku Melayu mau pun suku-suku lainya.

Dalam rangkaian upacara perkawinan adat Melayu Desa Tanah Merah Kecamatan Rangsang Pesisir Kabupaten Kepulauan Meranti Propinsi Riau sesudah acara akad nikah dilanjutkan pula dengan “Tepuk Tepung Tawar”. Acara ini adalah “menepuk” dengan beras kunyit dan bertih (padi yang disangrai), yang dilanjutkan dengan mencecah inai di telapak tangan pengantin,                    ( Curi Inai )Dalam acara ini juga senantiasa diiringi dengan pantun-pantun oleh si pembawa acara.

 

Tepuk  tepung tawar adalah suatu upacara adat budaya melayu yang sudah sangat terkenal ,dan ini merupakan  peninggalan para Raja-raja terdahulu. Tepuk tepung tawar merupakan upacara adat dan juga bentuk persembahan syukur atas tekabulnya suatu keinginan atau usaha, upacara ini dilakukan pada dua ketentuan,baik pada manusia maupun pada benda. Tepuk tepung tawar biasa di pergunakan dalam acara-acara tertentu  misalnya : pernikahan, khitanan, serta bentuk-bentuk  dari luapan rasa kegembiraan bagi orang-orang yang mempunyai hajatan, atau semacam upacara adat yang sakral lainnya.

Berdasarkan makna ritual tepuk tepung tawar bagi masyarakat Suku Melayu ada pepatah mengungkapkan  “kalau buat keje nikah kawin, kalau belum melaksanakan acara tepuk tepung tawar (dalam bahasa melayu: ketik tepung tawo) belum sah (afdhal) acara yang dilaksanakan”. secara teperinci dapat di jabarkan sebagai berikut

Adapun makna dari tepung tawar adalah :

1. Beras kunyit atau beras kuning. Warna kuning melambangkan raja, kebesaran, keagungan dan kebesaran Melayu

2. Beras putih atau beras basuh. Warna putih lambang kesucian, kebersihan, dengan bermakna bahwa melaksanakan segala sesuatunya haruslah mendapatkan tuah.

3. Bertih adalah beras yang digoreng tanpa minyak. Warna putih kecoklatan melambangkan pengembangan, kemekaran dengan kesuburan yang membawa kemakmuran.

4. Daun Setawar melambangkan penawar yaitu obat segala yang berbisa.

5. Daun Sedingin melambangkan kedamaian dan ketentraman hati.

6. Air harum-haruman (air mawar) melambangkan kebahagiaan (harmonis) di dalam keluarga dan nama baik.

7. Daun-daunan yang diikat menjadi satu sebagai perenjis melambangkan rasa kekeluargaan dan kebersamaan, kerukunan dan kedamaian rumah tangga dan bermasyarakat.

Adapun perlengkapan dan bahan-bahan tepuk tepung tawar terdiri atas :

  1. Pahar atau talam berkaki yang kecil.
  2. Sangku yaitu mangkuk tembaga yang kecil tempat beras kunyit.
  3. Beras basuh.
  4. Tepung beras dan beras bertih.
  5. Tempat inai giling.
  6. Air yang telah dicampur dengan tepung beras dan dibubuhi dengan harum-haruman (bunga mawar).
  7. Alat perenjis untuk menepuk yang terdiri dari daun setawar, daun sedingin, daun ganda rasa, daun hati-hati, daun sipulih, daun samban, daun juang, dan akar ribu-ribu. Semua daun-daun tersebut disusun dengan rapi dan diikat dengan salah satu daun.

Semoga tradisi ini tetap lestari sehinga bisa tetap terjaga sampai kenerasi yang akan datang itu hapan yang disampaikan salah satu tokoh adat desa tanah merah.

 

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Komentar & Saran Anda :