Rumah Warga Terancam Hilang, Abrasi Pantai di Desa Tanah Merah Kabupaten Meranti Ini 40 Meter Pertah

Tebing di Desa Tanah Merah Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, selalu runtuh ke laut. Bahkan, Setiap tahun abrasi pantainya capai 40 meter pertahun.

Hal ini disampaikan Kepala Desa Tanah Merah, Kecamatan Rangsang Pesisir, (Kades) Tanah Merah, Rusli, Minggu (23/8). Diakuinya, meskipun berbagai upaya telah dilakukan masyarakat maupun Pemerintah Daerah, namun belum banyak perubahan.

“Masyarakat dan Pemda sudah berupaya menekan lajunya abrasi, seperti melalui penanaman pohon magrove, tetapi tetap saja ancaman gelombang semakin mengancam rumah warga, ungkapnya.

Rusli juga mengungkapkan,  abrasi menjadi persoalan terbesar yang dihadapi warganya di Desa Tanah Merah. Bahkan menurutnya, sudah ada masyarakat yang tinggal di wilayah paling terdekat dengan laut malah mewanti-wanti jikalau rumahnya dalam beberapa tahun ke depan menjadi hilang akibat abrasi.

Ruslan, salah satu warga Tanah Merah berharap agar Pemerintah Pusat dapat mengatasi persoalan abrasi ini dengan cara memberikan bantuan batu pemecah ombak.


Angin utara yang terjadi di Meranti Khusus nya Di Desa Tanah Merah menjadi ancaman serius bagi masyarakat. Pasalnya angin utara menjadi penyumbang abrasi terbesar di wilayah pesisir.
Pergerakan angin Utara sudah mulai melanda wilayah perairan Kabupaten Kepulauan Meranti. Angin yang biasa terjadi jelang akhir tahun sampai awal tahun ini selalu menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai.

Sebagai salah satu wilayah pesisir yang berpulau-pulau, angin utara ini menjadi penyumbang abrasi terbesar yang masih terus menjadi ancaman serius, khususnya di wilayah yang berhadapan langsung dengan perairan perbatasan di Selat Malaka. Seperti halnya Desa Tanah Merah Kecamatan Rangsang Pesisir.

Menurut tokoh masyarakat setempat yang juga mantan Kepala Desa Tanah Merah Mahadi, selama 2013 lalu saja sudah sebanyak 20 meter tanah di pesisir pantai desa itu runtuh ke laut. Pelabuhan yang menjadi jalur aktivitas masyarakat pun tidak luput dari hempasan gelombang. 

“Hingga kini terhitung lebih kurang 40 meter daratan yang sudah runtuh ke laut. Kami mengukurnya sangat mudah, karena ada pelabuhan di sana. Selama tahun 2013 lalu, sudah berkali-kali terpaksa kami sambung agar tetap bisa dilalui masyarakat yang beraktivitas di laut,” kata Rusli ( Kepala Desa Tanah Merah ), Jumat (16/10/2015). 

Abrasi memang menjadi persoalan terbesar yang dihadapi masyarakat Tanah Merah. Bahkan menurutnya saat ini sudah ada masyarakat yang tinggal di wilayah terdekat dengan laut mewanti-wanti jika rumahnya dalam beberapa tahun ke depan menjadi hilang akibat abrasi. 

“Banyak antisipasi yang dilakukan warga yang tinggal di daerah paling dekat dengan pantai. Mulai dengan membangun rumah baru yang notabene lebih jauh dari laut atau mencari lahan. Abrasi menjadi momok bagi warga Tanah Merah,” sebutnya. 

abrasi terparah memang terjadi saat musim utara seperti saat ini. Sebab angin laut yang kuat setinggi 3 meter akan menghempaskan gelombang yang meruntuhkan daratan secara terus menerus, khususnya di Desa Tanah Merah. 

Total wilayah di Kepulauan Meranti yang menjadi titik terparah abrasi terjadi terdapat di 7 titik. Dengan abrasi tersebut telah merubah garis pantai yang mengakibatkan berubahnya wilayah Indonesia di Kepulauan Meranti. 


Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Komentar & Saran Anda :